Sejarah Asal Muasal Umrah

Sejarah asal muasal umrah bermula dari masa nabi Ibrahim As (1861-1686 SM), Nabi Ibrahim As merupakan keturunan dari Nabi Nuh As (3900 – 2900 SM). Ketika itu Nabi Ibrahim As bersama istri dan ismail bersama-sama bermigrasi ke tanah haram yaitu mekkah.  Selanjutnya Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membuat Kabah.

Ketika masa Nabi Muhammad SAW Kabah dibersihkan dari berhala dan mengembalikan kemurnian ibadah haji sesuai dengan ketentuan Allah sejak masa Nabi Ibrahim As. Sepanjang hidupnya Nabi Muhammad SAW sudah melakukan umrah 4 kali dan haji 1 kali.

Sampai sekarang, apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika pertama kali melakukan ibadah umrah menjadi rukun umrah yang berlaku bagi seluruh umat islam yang hendak melakukan umrah.

Rukun umrah adalah :

  1. Ihram, beniat untuk umrah
  2. Thawaf
  3. Sai

Umrah bisa disebut juga dengan haji kecil. Yaitu melakukan beberapa ritual ibadah di kota mekkah, khususnya masjidil haram. Arti umrah sendiri menurut syariah adalah melakukan tawaf di kabah dan sai antara safa dan marwah setelah menggunakan ihram. Ihram merupakan keadaan seseorang yang telah berniat untuk melaksanakan ibadah umrah atau haji. Perbedaah Umrah dan haji adalah umrah bisa dilakukan sewaktu-waktu atau kapan saja sedangkan haji bisa dilakukan ketika 8 dzulhijah hingga 12 dzulhijjah.

Beberapa syarat untuk melakukan umrah adalah:

  1. Beragama islam baik wanita dan laki-laki
  2. Sudah baligh dan berakal
  3. Merdeka
  4. Memiliki dana
  5. Ada mahram (khusus bagi wanita)

Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan ibadah umrah adalah:

  1. Apabila meninggalkan rukun umrah yaitu ihram, thawaf dan sai maka umrah tidak sah dan wajib diulangi
  2. Apabila meninggalkan kewajiban umrah yaitu melakukan ihram ketika memasuki miqat dan bertahallu dengan menggundul atau memotong sebagian rambut, maka ibadah umrah tetap sah dan kesalahan tersebut bisa di bayar dengan denda.
  3. Apabila melakukan jima (berhubungan suami istri) sebelum tahallul maka wajib membayar seekor kambing sebagaimana fatwa Ibnu Abbas Ra

Add your comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *